h1

Mandarin class

September 7, 2007

ji2.gif

Kelas semalam adalah kelas Mandarin pertama saya. Kelas ini diselenggarakan oleh Ericsson dan di –arrange oleh Ms. Siska di ruang Multimedia, Wisma Pondok Indah.

Kelasnya terdiri dari 16 peserta dan dipandu oleh dua orang instruktur, Mr. Heri dan Ms. Lina yg cantik, mirip shang zi yi. Selain itu Mbak Siska juga kerap terjun langsung mengajari kami.

Mr. Heri dan Ms. Lina masih sangat muda. Keduanya merupakan mahasiswa dari Beijing yang sedang belajar sastra Indonesia di UI. Sebelumnya mereka belajar sastra Indonesia di Beijing. Keduanya sangat kooperatif dan ramah. Bahasa Indonesia keduanya pun sangat mumpuni meski baru sebulan berada di Jakarta.

Sesi pertama kami mulai dgn belajar 6 huruf vokal beserta masing 4 cara pengucapannya yg berbeda. Wuihh, dahsyat, sulitnya luarrrr biasa. Bayangkan saja, huruf vokal a memiliki 4 cara pengucapan atau tonasi yg jika masing-masing diletakkan dlm suatu kata atau suku kata akan memiliki arti yg berbeda-beda. Sungguh sanggup membuat lidah tertindas, namun tetap terasa menyenangkan. Persis seperti makan masakan padang🙂. Terang saja, sesi tersebut dipenuhi seyum geli para peserta yg berucap dgn beragam nada.

Tantangannya tdk berakhir di sesi pertama. Sesi selanjutnya lebih seru lagi, yaitu menulis. Yup, menulis karakter China yg mirip untaian mie pangsit. Rumit.

Kami belajar utk menulis kata-per-kata (atau menurut bu Siska, per suku kata). Ini tidak mudah sebab cara menulisnya harus tunduk pada aturan. Ada goresan yg harus dimulai dari kiri, ada dari kanan, ada yg harus sedikit miring, ada yg tdk tdk boleh miring, deuhhh. Instrukturnya dgn baik hati bersedia utk menuliskan terlebih dahulu di kertas kami masing-masing baru kemudian kami mencoba utk mencontohkannya.

Dan instrukturnya pun mewanti-wanti, walaupun karakter yg kami tulisannya sesuai dgn apa yg dicontohkan, cara penulisannya tdk boleh salah. Yg dimulai dari atas, harus dari atas, yg dari kanan, harus dari kanan. Sy berfikir bahwa ini merupakan salah satu tanda bahwa org Tionghoa sangat disiplin dan berorientasi bukan hanya terhadap hasil, tetapi juga terhadap prosesnya.

Yang menarik adalah, karakter-karakter yang sekarang kita kenal, yg disebut pinyin, sesunguhnya berasal dari gambar. Contohnya, karakter yg berarti aman berasal dari simbol wanita yg dipadu dgn simbol rumah. Yup, wanita yg tenang dan aman jika berada di rumah. Mungkin jaman dulu klo perempuan berada di luar rumah bisa bikin resah yaa…hehe, jaman sekarang gmn?:P. Selain itu, ada karakter perempuan (lagi, perempuan) yg disandingkan dgn anak (lelaki) yg bermakna bagus atau baik.

Menurut instrukturnya, saya melakukan kesalahan sewaktu menulis karakter ini karena jarak antara simbol perempuan dan anak tersebut terlalu jauh. Utk menuliskan simbol tersebut dgn benar, jarak keduanya haruslah berdekatan. Bener juga sih, sudah banyak anak yg hilang maupun rusak secara psikologis karena jauh dari (bimbingan) org tua.

Oke deh, sekian laporan pandangan matanya. Semoga sy dapat sesuatu dari kelas ini, Nabi sendiri kan nyuruh kita menuntut ilmu meski sampai ke negri China. Utlubil ‘ilma walau bi ssiin.

加油

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: